REVIEW Royal Enfield Classic 500cc

download (1)

Royal Enfield Classic 500 yang mesinnya berkapasitas 500 cc single cylinder sudah ber-injeksi. motor 500 cc satu silinder yang getarannya luar biasa. Memang inilah ciri khas dari Royal Enfield, pihak produsen sengaja membuat getaran mesin terasa sampai ke sekujur badan ridernya agar bisa merasakan sensasi seperti berkendara dengan motor lawas, serta torsi yang melimpah ruah. Bukan lebay sob, tapi memang torsinya saya akuin juara banget! gear 1 hanya buat start jalan saja dari posisi diam, langsung lanjut oper ke gear 2 dan ke gear 3 ketika jarum speedometer menyentuh angka 60 km/jam.

hrottle body dibiarkan terbuka tanpa casing atau cover, seandainya TB di-cover dengan yang berbentuk karburator pasti bakalan lebih keren nih seperti Triumph Bonnie atau Truxton gitu deh. IMHO

Mesin dari Classic 500 memiliki ukuran bore 84 mm dan stroke 90 mm, dengan perbandingan kompresinya 8,5:1. Cukup rendah ya, tapi tenaganya lebih dari cukup sob, tercatat sebesar 27,2 Bhp pada putaran mesin 5.250 rpm dengan torsi 41.3 Nm di putaran mesin yang rendah yakni 4.000 rpm. Walah, pantesan enak banget diajak nanjak.
Air box filter ada di sisi kanan dan bagi saya, suara “ngok…” setiap gas dibuka. Maka dari itu bagi saya perlu suara knalpot yang lebih besar nih. Eh tapi nanti gak lolos sertifikasi Euro yah.
Soal getaran mesinnya, memang luar biasa tersalurkan sampe ke tangan rider. Saya awalnya kaget karena masih adaptasi dengan motor, namun motor memang harus dibawa dengan smooth dan santai. Bermain di gigi berat malah mesin jadi anteng. Benar-benar motor buat santai deh ini. Tapi torsinya guede banget sob, saya terus pakai gigi 3 baik saat di dalam kota dengan kecepatan dibawah 40 km/jam. Mesin gak akan mati karena dibantu banget sama torsi besarnya, meskipun terus terang awalnya saya khawatir karena idle/stasioner RPM nya rendah banget. Pun ketika saya memasuki jalur perbukitan di daerah Imogiri, terus panteng di gigi 3 aja rata-rata buat nanjak, aman jaya gak ada gejala kedodoran. Cuma ada 5 percepatan ya. Tapi rasio gearbox nya berat, napas mesin terasa panjang setelah gigi 3 keatas.
Bobotnya motor ini berat, paling terasa itu ketika motor berhenti dan kaki menopang. Tambah lagi kaki saya yang jinjit balet saat posisi motor sedang berhenti. Mungkin kalau rider-nya punya tinggi 170 cm atau lebih, bisa jauh lebih nyaman karena kaki menapak sempurna.


Riding position
 Classic 500 ini nyaman, ciri khas motor roadsterbanget yang santai tapi tetap sigap. Jok empuk karena busa yang sudah tebal ditambah lagi dipasang spring nya di bagian bawah jok.
Bagian depan, headlampnya masih pakai bohlam dengan “topi” di sebelah atas lampu. Di sektor ini saya mendengar bunyi-bunyian yang diakibatkan getaran mesin. Entah dari mana datangnya, tapi kemungkinan sih di area cover lampunya. Meskipun bunyi tersebut tidak terlalu mengganggu konsentrasi rider.
Speedometernya pun kuat kesan motor lawasnya. Buang jauh-jauh deh teknologi seperti digital panel bermonitor LCD. Indikator BBM nya pun cuma akan berkedip saat BBM motor mulai menipis. Sayang ya, padahal saya mau tes konsumsi bahan bakarnya jadi gak bisa. Disamping fuel indicator ada indikator check engine karena yang saya pakai sudah injeksi. Kunci kontak dengan kunci stang terpisah jauh. Kontak ada di atas sedangkan kunci stang posisinya ada di bawah tangki.
Ada lampu senjanya yang meski berukuran kecil banget, justru malah menambah kesan klasiknya.
Lampu belakang memiliki pendaran cahaya yang baik, meskipun belum pakai LED saya sih yakin cukup terang untuk dilihat dari jauh. Buritan dari RE Classic 500 memang elegan banget, mirip sama motor jadul dari pabrikan Bavaria. Memang RE juga dipasarkan di kawasan Eropa, khususnya market cukup baik di Britania Raya, jadi kesan motor Eropa-nya cukup kuat pada setiap variannya.
Itulah impresi dan pengalaman saya selama jajal Royal Enfield Classic 500 seharga 75 juta rupiah (on the road) selama berada di Yogyakarta.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started